Showing posts with label Suku Mandar. Show all posts
Thursday, January 4, 2018
Wisata Arkeologi Suku Mandar, Sulawesi Barat
Makam Todilaling
Kompleks makam Todilaling berada di Desa Napo, Kecamatan Limboro, Kabupaten Polewali Mandar ini adalah makam raja pertama kerajaan Balanipa. Kini, makam itu tidak begitu tampak, kecuali batu nisan yang terhimpit di antara akar pohon beringin. Untuk mencapai kompleks makam ini perjalanan bisa dimulai dari ibukota Polewali menuju arah Barat Kecamatan Balanipa sekitar 30 Km lalu di daerah Layonga, berbelok ke arah Utara menuju puncak bukit Napo sepanjang 3 Km. Di atas puncak bukit Napo dan di bawah naungan rindangnya pohon beringin itulah raja pertama Balanipa dimakamkan. Konon di tempat makam itu pula dikebumikan beberapa dayang-dayang dan penari serta beberapa penabuh gendang yang dengan setia menyertai raja pertama Balanipa itu ke dalam liang lahat, sebagai bukti kesetiaan.
Makam Tomepayung
Situs makam lain yang juga berada di atas puncak bukit dan hanya berjarak sekitar 3 Km dari kompleks makam Todilaling adalah kompleks makam Tomepayung atau raja kedua Balanipa. Yang menarik pada kompleks makam raja ini adalah adalah bala tau (arena sabung orang) dan laliang tallu (tiga tungku) besar yang konon yang konon keduanya adalah tempat warga yang terlibat silang sengketa. Khusus untuk bala tau digunakan bagi para laki-laki yang terlibat dalam satu perkara, sedangkan untuk laliang tallu jika yang terlibat perkara adalah perempuan.
Makam Tomakaka Pondi
Salah satu situs makam pejuang kerajaan Balanipa Tomakaka Pondi atau yang bergelar Laso Mosso ini terletak di puncak gunung Desa Mosso Kecamatan Balanipa. Makam Laso Mosso ini terletak 800 Meter dari area perkampungan warga dan untuk mencapainya dapat melalui jalan yang terjal, berkelok, dan menanjak. Untuk mencapai ke puncak Mosso satu-satunya akses jalan yang dapat ditempuh adalah dengan berjalan kaki.
Makam Puang Towarani
Kompleks makam Towarani terletak di Desa Tandung Kecamatan Tinambung, sekitar satu kilometer dari jalan poros trans Sulawesi Barat. Puang Towarani adalah salah satu panglima perang kerajaan Balanipa abad XVII yang dikenal pemberani. Di kompleks makam ini terdapat 125 makam, termasuk makam Puang Towarani dan dua makam pengawalnya yang terletak di samping kanan. Yang menarik dari kompleks makam Puang Towarani adalah banyaknya pengunjung yang datang dengan niat untuk massamayu (syukuran dan atau hajatan).
Allamungan
Allamungan Batu yang menjadi simbol penyatuan tujuh kerajaan di pesisir dan tujuh kerajaan di pedalaman dalam sebuah konfederasi Mandar di sekitar abad ke 18 yang diprakarsai oleh Tomepayung saat ia memerintah kerajaan Balanipa. Penyatuan yang ditandai dengan batu yang ditanam ke dalam tanah ini terletak di Luyo Kecamatan Luyo sekitar 25 Km dari ibukota Polewali.
Makam To Salama
Salah satu makam tosalama' (yang dikeramatkan) di Polewali Mandar adalah yang terletak di Pulau Karamasang Dusun Pulau Tangnga Kelurahan Ammassangan Kecamatan Binuang Kabupaten Polewali Mandar. Di tempat ini dimakamkan Abdul Rahim Kamaludding atu lebih dikenal dengan nama Syech Bil Ma'ruf. Salah satu tokoh penganjur agama Islam pertama di Tanah Mandar. Nisan pada makam ini terbuat dari batu padas sedangkan badan makam terbuat dari batu kapur dan untuk mencapainya dapat ditempuh dengan mengendarai perahu motor sekitar 15 menit dari ibukota Polewali.
Wednesday, January 3, 2018
Ritual Tradisional Suku Mandar, Sulawesi Barat
Pernikahan
Ritual lain di masyarakat Polewali Mandar adalah kenduri pernikahan, sebab selain karena budaya masyarakat Mandar banyak dipengaruhi oleh peradaban Islam sebagai agama yang dominan, juga karena aroma ritual budaya peninggalan leluhur juga masih sangat kuat melekat. Salahsatunya adalah acara mallattingi sebagai prosesi awal yang dilakukan sebelum melangkah ke acara ijab kabul dan akad nikah baik perempuan maupun laki-laki. Ritual ini sangat mudah dijumpai karena hampir selalu ada di setiap acara pernikahan yang diadakan oleh masyarakat POlewali Mandar.
Sayyang Pattu'du
Ritual yang paling khas di Polewali Mandar adalah totamma' mangaji (khatam Al-Qur'an). Pada acara ini acapkali ditandai dengan pessaweang sayyang mattu'du' (penunggangan Kuda meanri) yang dilakukan oleh perempuan-perempuan Mandar dengan mengenakan pakaian adat dan diarak keliling kampung dengan diiringi parrawana (pemukul rebana) diselingi dengan kalinda'da' (sastra lisan Mandar). Acara serupa ini biasanya dihelat berbarengan dengan acara Maulid di hampir semua kecamatan yang ada di Polewali Mandar. Menariknya, ritual semacam ini biasanya diawali dengan pambacangan (upacara syukuran) dengan melantunkan barsanji (tembang pujian kepada Rasulullah) saat pagi dan siang harinya. Dan pada sore harinya baru digelar acara sayyang pattu'du'. Kecamatan yang paling sering melakukan ritual ini adalah Polewali, Matakali, Wonomulyo, Campalagian, Mapilli, Luyo, Balanipa, Tinambung, Limboro, dan Alu.
Penyucian Benda Pusaka
Massossor sossorang (menyucikan pusaka) adalah ritual yang menarik. Tidak jarang ritual ini diawali dan dirangkaikan dengan beragam prosesi adat lainnya. Khusus untuk massossor sossorang misalnya, maka prosesi yang mesti mendahuluinya adalah menggelar acara mappauli banua (mengobati kampung) dan mattula' bala (menolak bala) yang akan dilanjutkan dengan penyucian dan acara ziarah ke kuburan para tetuah leluhur kampung sebagai bagian yang tak terpisahkan dari acara massossor sossorang. Acara ini hingga kini mulai jarang ditemukan. Dan salahsatu daerah yang hampir tiap tahun menggelar acara penyucian sossorang ta'bilowe (gong pusaka) adalah Desa Mosso Kecamatan Balanipa yang untuk menjangkaunya bisa ditempuh dengan melakukan perjalanan darat ke arah Barat ibukota Polewali sekita 30 Km. Dan berada sekitar 8 Km dari ibukota Kecamatan Balanipa ke arah Utara di atas wilayah pegunungan.
Pelantikan Adat
Acara pelantikan adat atau arayang adalah ritual yang juga sangat khas pada masyarakat Mandar. Biasanya pada ritual ini ditandai dengan penyematan sokko biring (kopiah khas Mandar) dan penyerahan keris pusaka kepada arayang yang dilantik dan dilakukan oleh pappuangan atau petinggi adat yang berperan mewakili warga. Pada prosesi ini juga dirangkaikan dengan upacara massossor (penyucian) benda pusaka dan pengucapan janji di depan khalayak warga yang mengikuti prosesi tersebut. Sayangnya acara ini agak susah ditemukan mengingat biasanya acara ini hanya diselenggrakan pada saat ada arayang yang mangkat dan digantikan oleh arayang yang baru.
Tuesday, January 2, 2018
Kesenian Tradisional Suku Mandar, Sulawesi Barat
1. KEKE
Keke merupakan alat musik tadisional Mandar. Keke terbuat dari bambu yang berukuran kecil yang diujungnya terdapat daun kelapa kering yang dililitkan sebagai pembawa efek bunyi yang dihasilkan oleh alat tiup ini. Biasanya alat musik tradisional ini dimainkan di sawah ata ladang milik warga untuk mengisi kesepian para petani saat menunggui ladang atau sawah mereka. Kini, alat musik tiup inipun acapkali dimainkan untuk kepentingan seni pertunjukan dan dikolaborasikan dengan alat musik tradisional lainnya.
2. CALONG
Kabupaten Polewali Mandar pada kenyataannya tidak bisa lepas dari banyaknya kesenian tradisi yang tumbuh dan berkembang dalam keberagaman. Salah satu keberagaman itu ada pada bidang seni musik tradisi. Khusus pada bidang ini, keunikapun mulai dapat terasa jika menyaksikan alat musik yang dipergunakan, salah satunya adalah calong (alat musik yang terbuat dari batok kelapa dengan tatakan bilahan bambu di atasnya). Biasanya alat musik ini dimainkan secara solo, tetapi pada perkembangannya, alat musik ini pun mulai dikolaborasikan dengan beberapa alat musik lainnya. Calong tidak jarang diusung ke atas panggung pementasan musik secara kolaboratif.
3. PARRAWANA TOWAINE& PAKKALINDA'A
Kepiawaian lain dari para seniman di Kabupaten Polewali Mandar adalah kehebatan para penabuh rebana (alat musik perkusi). Yang uniknya justru digiati oleh kelompok perempuan atau yang acap dikenal sebagai parrawana towaine (perempuan penabuh rebana). Untuk menyaksikannya, biasanya pentas dilakukan saat ada kenduri keluarga yang memang menazarkan untuk menampilkan jenis kesenian ini atau pada acara-acara pementasan kesenian lainnya yang mengundang khusus para parrawana towaine sebagai salah satu pengisi acara. Selain perempuan penabuh perkusi, genre kesenian sastra lisan tradisional di Polewali Mandar yang tak kalah menarik dan uniknya adalah kalinda'da (sastra lisan tradisional Mandar) yang pola permainannya seperti berpantun. Khusus untuk kesenian ini, dapat disaksikan pada acara totamma' mangaji (khatam Al-Qur'an) yang disertai dengan passawe sayyang pattu'du (menunggang Kuda menari). Pakkalinda'da (pelantun syair) dengan dibarengi gerakan-gerakan lincah melantunkan kalinda'danya di depan kuda menari yang ditunggangi oleh perempuan cantik.
4. PAKKACAPING & PAPPAMACCO'
Pakkacaping juga adalah salah satu genre kesenian pertunjukan musik rakyat. Biasanya permainan ini dimainkan oleh para seniman di Polewali Mandar dengan jalan meramunya dengan beragam pola petikan kecapi dan ditimpali dengan nyanyian dalam bentuk syair atau yang lebih biasa disebut tere (ungkapan puitik dalam bentuk cerita atau kelakar). Biasanya pada saat dipentaskan, pakkacaping tidak jarang dipaketkan pula dengan pappamacco' yang dalam pemanggungannya dilakukan dengan menjejerkan beberapa gadis rupawan di atas panggung pertunjukan yang didepannya disiapkan sebuah tempat untuk memasukkan yang diberikan oleh penonton yang berniat menyaksikan kerupawanan sang gadis dari jarak dekat. Dengan gaya yang kocak para penonton meletakkan beberapa lembar uang atau benda berharga lainnya ke dalam wadah.
5. TARI & PA'MACCA
Tari dan Pa'macca (pencak silat) merupakan salah satu dari jenis seni gerak yang menggunakan gestur yang sangat menarik dan indah. Tari dan pa'macca dapat disaksikan pada beberapa even kesenian dan juga di acara hiburan masyarakat. Seperti hajatan dan penjemputan tamu-tamu penting. Pada seni gerak Pa'macca, tiap gesturnya biasanya mengambil pola gerakan ilmu macca ( bela diri) kemudian diramu dalam konsep seni pertunjukan.
Monday, January 1, 2018
5 Wisata Sosial Suku Mandar, Sulawesi Barat
Wisata Sosial Suku Mandar ini mengandung pengertian kita melakukan kegiatan wisata namun dibalik kepuasan yang kita dapat terdapat beberapa aspek nilai sosial yang kita berikan atau kita dermakan sebagai wujud rasa kesetiakawanan sosial. Di suku mandar itu sendiri terdapat beberapa aktifitas keseharian masyarakat yang bisa kita pelajari dan ikut mencoba untuk melihatnya. Wisata ini di suku ini memberikan rasa tersendiri dalam berbaur dalam keseharian masyarakat mandar. Jika jalan-jalan ke daerah mandar maka anda bisa melihat-lihat kegiatan masyarakayt. Apa saja kegiatan masyarakat mandar? simak penjelasan berikut ini:
Penenun Sutera Mandar
Polewali Mandar Kabupaten sungguh baik dikenal sebagai pusat sutera yang menenun produksi. Penenun sutera mempunyai aneka pilihan dan mempola disain. Pusat sutera yang menenun produksi dapat ditemukan beberapa daerah seperti Tinambung, Balanipa, dan Limboro lebih dari 25 Barat Km bagian dari Polewali. Hampir semua penenun adalah wanita-wanita sebab konsep Siwaliparri Keikutsertaan. Karena wanita-wanita, menenun sutera adalah lambang loyalas dan integritas untuk suami mereka.
Pembuat Gula Aren
Aktivitas Mandar orang-orang untuk mendukung rumah tangga sedang membuat suatu goresan/ukiran di (dalam) pohon gula aren untuk memperoleh getah. Pohon aren adalah bahan gula aren yang terutama yang tinggal di area gunung. Pembuat gula aren dapat melayani secara langsung sebagai hidangan lokal atau mengirimkannya kepada pusat dari produksi gula aren tradisional di Balanipa, Limboro, Tinambung, dan lain
Pemecah Buah Kemiri
Konsep Siwaliparri' (Keikutsertaan Wanita-Wanita dalam mencari-cari pendapatan rumah tangga) dapat dilihat dalam aktivitas sehari-hari memecah kulit buah kemiri. Anda dapat temukan aktivitas ini di Limboro dan Alu Daerah 35 Km dari Polewali menuju ke Barat.
Pemancingan
Bahari adalah salah satu karakteristik lokal dari orang-orang Mandar. Menangkap ikan di perairan merupakan aktivitas sehari-hari orang Mandar. Anda temukan kultur yang unik ini karena kebiasaan aktivitas memancing orang Mandar sepanjang area daerah pantai.
Gembala Kambing
Aktivitas harian yang kebanyakan orang-orang pada sore hari yaitu mencari kambing mereka. Binatang ini biasanya dijinakkan oleh orang-orang Mandar tradisional. Temukan pandangan yang jarang ini dekat Palippis jalan ke Tinambung 20 Km bagian Barat dari Polewali. Mereka menjinakkan kambing itu untuk meningkatkan pendapatan hidup.
Saturday, December 30, 2017
Sekilas Tentang Sejarah Asal Usul Suku Mandar
Suku Mandar adalah suku bangsa yang menempati wilayah Sulawesi Barat, serta sebagian Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah Populasi Suku Mandar dengan jumlah Signifikan juga dapat ditemui di luar Sulawesi seperti Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jawa dan Sumatera bahkan sampai ke Malaysia. Pada sensus penduduk tahun 1980 didapati bahwa terdapat 300.000 orang Mandar di Sulawesi Selatan, tetapi ini lebih menunjukkan jumlah penutur bahasa Mandar pada tahun itu kabupaten Majene, Mamasa, dan Mamuju penutur bahasa Mandar juga banyak, maka angkanya akan lebih dari 300.000 jiwa di tiga kabupaten, Majene, Mamasa dan Mamuju pada waktu itu, karena sensus tahun 1980 menunjukkan jumlah penduduk Majene 120.830, Mamasa 360.384, Mamuju 99.796 sedangkan Makassar 709.000.
Mandar secara geografis tidak sebatas dengan wilayah keresidenan (Kabupaten) Polewali atau Majene, atau mungkin tidak sebatas kedua wilayah ini melainkan seluas wilayah yang diperjuangkan menjadi Provinsi Sulawesi Barat (Provinsi Sulbar). Dengan kata lain, dalam konteks geografis dan bukan konteks kultural, istilah Mandar mencakup seluruh wilayah Sulbar. Mungkin juga bisah diterima bahwa secara kultural dan terbatas, Mandar mencakup masyarakat Polewali Mandar, Majene, dan Mamuju. Jadi ada Mandar Balanipa dan Polewali yang berada dalam wilayah Polewali Mandar, ada Mandar Majene (Sendana,Pamboang,dan Banggae) yang berada dalam wilayah kabupaten Majenedan ada Mandar Mamujudidalamnya terdapat daerah Tappalang. Karena itu, Mandar, dalam Konteks Kultural, lebih sempit dari pada mandar dalam jangkauan makna geografis. Dalam konteks geografis, Provinsi Sulbar tidak hanya dihuni oleh masyarakat Mandar Balanipa dan Polewali, Mandar Majene, dan masyarakat Mandar Mamuju, melainkan juga oleh masyarakat suku Toraja di Kabupaten Mamasa.
Sejarah Suku Mandar
Mandar ialah suatu kesatuan etnis yang berada di Sulawesi Barat. Dulunya, sebelum terjadi pemekaran wilayah, Mandar bersama dengan etnis Bugis, Makassar, dan Toraja mewarnai keberagaman di Sulawesi Selatan. Meskipun secara politis Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan diberi sekat, secara historis dan kultural Mandar tetap terikat dengan “sepupu-sepupu” serumpunnya di Sulawesi Selatan. Istilah Mandar merupakan ikatan persatuan antara tujuh kerajaan di pesisir (Pitu Ba’ba’na Binanga) dan tujuh kerajaan di gunung (Pitu Ulunna Salu). Keempat belas kekuatan ini saling melengkapi, “Sipamandar” (menguatkan) sebagai satu bangsa melalui perjanjian yang disumpahkan oleh leluhur mereka di Allewuang Batu di Luyo.
Asal-Usul Kata Mandar
Kata Mandar memiliki berbagai arti:
(1) Mandar berasal dari konsep Sipamandaq yang berarrti saling kuat menguatkanpenyebutan itu dalam pengembangan berubah penyebutannya menjadi Mandar
(2) kata Mandar dalam penuturan orang Balanipa berarti sungai,
(3) Mandar berasal dari Bahasa Arab; Nadara-Yanduru-Nadra yang dalam perkembangan kemudian terjadi perubahan artikulasi menjadi Mandar yang berarti tempat yang jarang penduduknya.
(4) Menurut orang Belanda yang sempat menjajah Indonesia termasuk Mandar termasuk salah wilayah Afdeling, Mandar terdiri dari dua kata Man dan Dare yang berarti manusia dan berani,ini di landasi dari gigihnya perlawanan rakyat Mandar saat kolonialisme Belanda di Indonesia khususnya di tanah Mandar sehingga Mandar di katakana manusia berani, setelah mengajukan berbagai pertimbangan penetapan pilihan pada butir kedua, yaitu “Mandar” yang berarti “Sungai” dalam penuturan penduduk Balanipa. Tampaknya menyebutan itu tidak berpengaruh terhadap penamaan sungai sehingga sungai yang terdapat de daerah itu sendiri disebut Sungai Balangnipa. Selain itu masih terdapat sejumlah sungai lain di daerah Pitu Babana Binanga (PBB), yaitu sungai, Tinambung, Campalagiang, Mapilli, Karama, Lumu, Buding-Buding, Lariang dan Binuang (Paku).
Selain itu, dalam buku dari H. Saharuddin, dijumpai keterangan tentang asal kata Mandar yang berbeda. Menurut penulisnya, berdasarkan keterangan dari A. Saiful Sinrang, kata Mandar berasal dari kata Mandar yang berarti “Cahaya”; sementara menurut Darwis Hamzah berasal dari kata mandaq yang berarti “Kuat”; selain itu ada pula yang berpendapat bahwa penyebutan itu diambil berdasarkan nama Sungai Mandar yang bermuara di pusat bekas Kerajaan Balanipa (Saharuddin, 1985:3).
Rumah Adat, Kesenian dan Makanan khas Mandar
Rumah adat suku Mandar disebut Boyang. Perayaan-perayaan adat diantaranya Sayyang Pattu'du (Kuda Menari), Passandeq(Mengarungi lautan dengan cadik sandeq), Upacara adat suku Mandar , yaitu "mappandoe' sasi" (bermandi laut). Makanan khas diantaranya Jepa, Pandeangang Peapi, Banggulung Tapa, dll. Mandar dapat berarti tanah Mandar dapat juga berarti penduduk tanah Mandar atau suku Mandar.
Bahasa Mandar
Seperti suku-suku atau etnis lainnya yang ada pada suatu bangsa termasuk yang ada di Indonesia, dipahami bahwa bahasa merupakan identitas yang menunjukkan suatu bangsa, etnis atau suku tersebut.Tak pelak Mandar sebagai sebuah etnis atau bahkan yang lebih besar dari itu, sebuah suku bangsa juga berlaku hal yang serupa.Artinya Mandar juga dapat dipahami dan dimengerti bahkan dikenal melalui bahasa dan dialeknya.
Konon masih sama dengan etnis lainnya di Indo¬nesia, bahasa Mandar juga berasal dari rumpun bahasa Malayu Polinesia atau bahasa Nusantara atau yang lebih acap disebut sebagai bahasa ibunya orang Indo¬nesia. Oleh Esser (1938) disebutkan, seperti yag dikutip Abdul Muttalib dkk (1992), bahwa mandfarsche dialecten yang awal penggunaannya berangkat dari daerah Binuang bagian utara Polewali hingga wilayah Mamuju Utara daerah Karossa.
Walau hingga kini tidak jelas benar sejak kapan penggunaan bahasa Mandar dalam keseharian orang Mandar.Namun dapat diduga, bahwa penggunaan bahasa Mandar sendiri bersamaan lahirnya orang atau manusia pertama yang ada di tanah Mandar.Hal yang lalu dapat dijadikan rujukan adalah adanya bahasa Mandar yang telah digunakan dalam lontar Mandar sekitar abad ke-15 M. Ibrahim Abas (1999).
Sehingga kuat dugaan bahwa bahasa yang digunakan sistem pemerintahan dan kemasyarakatan masa lalu di daerah Mandar telah menggunakan bahasa Mandar, yang untuk itu dapat dicermati dalam beberapa lontar yang terbit pada masa-masa pemerintahan kerajaan Mandar.
Sedang menilik area penyebaran bahasa Mandar sendiri, hingga kini masih dengan mudah bisa di temui penggunaannya di beberapa daerah di Mandar seperti, Polman, Mamasa, Majene, Mamuju dan Mamuju Utara. Kendati demikian di beberapa tempat atau daerah di Mandar juga telah menggunakan bahasa lain, seperti untuk Polmas di daerah Polewali juga dapat ditemui penggunaan bahasa Bugis, sebagai bahasa Ibu dari etnis Bugis yang berdiam dan telah menjadi to Mandar (orang Mandar-pen) di wilayah Mandar. Begitu pula di Mamasa, menggunakan bahasa Mamasa, sebagai bahasa mereka yang memang di dalamnya banyak ditemui perbedaannya dengan bahasa Mandar.Sementara di daerah Wonomulyo, juga dapat difemui banyak masyarakat yang menggunakan bahasa Jawa, utamanya etnis Jawa yang tinggal dan juga telah menjadi to Mandar di daerah tersebut.Kecuali di beberapa tempat di Mandar, seperti Mamasa. Selain daerah Mandar-atau kini wilayah Provinsi Sulawesi Barat-tersebut, bahasa Mandar juga dapat ditemukan penggunaannya di komunitas masyarakat di daerah Ujung Lero Kabupaten Pinrang dan daerah Tuppa Biring
Kerajaan Suku Mandar
Akhir abad 16 atau awal abad 17 negeri negeri Mandar menyatukan diri menjadi sebuah negeri yang lebih besar, yaitu tanah Mandar yang terdiri dari Pitu Ulunna Salu dan Pitu Babana Binanga, Pitu Babana Binanga lah yang terkenal dengan armada laut Mandar dalam perang Gowa-Bone diabad ke17.
Suku Mandar terdiri atas 17 (kerajaan) kerajaan, 7 (tujuh) kerajaan (lebih mirip republik konstitusional dimana pusat musyawarah ada di Mambi) hulu yang disebut "Pitu Ulunna Salu", 7 (tujuh) kerajaan muara yang disebut "Pitu ba'bana binanga" dan 3 (tiga) kerajaan yang bergelar "Kakaruanna Tiparittiqna Uhai".
Tujuh kerajaan yang tergabung dalam wilayah Persekutuan Pitu Ulunna Salu adalah :
1. Kerajaan Rante Bulahang
2. Kerajaan Aralle
3. Kerajaan Tabulahan
4. Kerajaan Mambi
5. Kerajaan Matangnga
6. Kerajaan Tabang
7. Kerajaan Bambang
Tujuh kerajaan yang tergabung dalam wilayah Persekutuan Pitu Baqbana Binanga adalah :
1. Kerajaan Balanipa
2. Kerajaan Sendana
3. Kerajaan Banggae
4. Kerajaan Pamboang
5. Kerajaan Tapalang
6. Kerajaan Mamuju
7. Kerajaan Benuang
Kerajaan yang bergelar Kakaruanna Tiparittiqna Uhai atau wilayah Lembang Mappi namun sekarang adalah bagian dari kerajaan Balanipa, adalah sebagai berikut:
1. Kerajaan Allu
2. Kerajaan Tuqbi
3. Kerajaan Taramanuq
Di kerajaan-kerajaan Hulu pandai akan kondisi pegunungan sedangkan kerajaan-kerajaan Muara pandai akan kondisi lautan. Dengan batas-batas sebelah selatan berbatasan dengan Kab. Pinrang, Sulawesi Selatan, sebelah timur berbatasan dengan Kab. Toraja, Sulawesi Selatan, sebelah utara berbatasan dengan Kota Palu, Sulawesi Tengah dan sebelah barat dengan selat Makassar.
Sepanjang sejarah kerajaan-kerajaan di Mandar, telah banyak melahirkan tokoh-tokoh pejuang dalam mempertahankan tanah melawan penjajahan VOC,Belanda seperti: Imaga Daeng Rioso, Puatta i sa'adawang, Maradia Banggae, Ammana iwewang, Andi Depu, meskipun pada akhirnya wilayah Mandar berhasil direbut oleh Belanda.
Dari semangat suku Mandar yang disebut semangat "Assimandarang" sehingga pada tahun 2004 wilayah Mandar menjadi salah satu provinsi yang ada di Indonesia yaitu provinsi Sulawesi Barat.
Dilansir dari id.wikipedia.org
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)












